Senin, 04 Maret 2013

KH. HASYIM ASY'ARI DAN KH. AHMAD DAHLAN


KH. HASYIM ASY'ARI DAN KH. AHMAD DAHLAN “Sang Pencerah dan Sang Penakluk Badai” 1. KH. Ahmad Dahlan (Yogyakarta, 1868-1923) Beliaulah Muhammad Darwis bin Abu Bakar bin Muhammad Sulaiman bin Murtadha bin Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Sulaiman (Ki Ageng Gribig) bin Muhammad Fadhlullah (Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri). Muhammadiyyah lahir 18 November 1912/8 Dzullhijjah 1330, dengan pondasi ayat: “Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran ayat 104). 2. KH. Hasyim Asy’ari (Jombang, 1875-1947) Beliaulah Muhammad Hasyim bin Asy’ari bin Abu Sarwan bin Abdul Wahid bin Abdul Halim bin Abdurrahman (Pangeran Samhud Bagda) bin Abdul Halim (Pangeran Benawa) bin Abdurrahman (Jaka Tingkir) bin Maulana ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri). Nahdlatul Ulama lahir 31 Januari 1926/16 Rajab 1344, dengan pondasi ayat: “Dan berpeganglah kalian kepada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kalian dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kau karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kau telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkanmu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu agar kalian mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran ayat 103). MBAH HASYIM ASY'ARI DAN MBAH AHMAD DAHLAN Oleh: KH. Yahya Cholil Staquf Hadhratus Syaikh Muhammad Hasyim bin Asy’ari Basyaiban adalah kyai semesta. Guru dari segala kyai di tanah Jawa. Beliau kyai paripurna. Apapun yang beliau dawuhkan menjadi tongkat penuntun seumur hidup bagi santri-santrinya, bahkan sesudah wafatnya. Nahdlatul Ulama adalah warisan beliau yang terus dilestarikan hingga para cucu-santri dan para buyut-santri, hingga sekarang. Segerombol jama’ah dalam merek jam’iyyah yang kurang rapi, sebuah ikatan yang ideologinya susah diidentifikasi, identitas yang nyaris tanpa definisi, tapi toh begitu terasa balutannya, bagi mereka yang -entah kenapa- mencintainya. Barangkali karena memang Nahdlatul Ulama itu ikatan yang azali, cap yang dilekatkan pada ruh sejak dari sononya, sebagaimana Hadhratus Syaikh sendiri mencandranya: بيني وبينكم في المحبة نسبة مستورة في سر هذا العالم نحن الذون تحاببت أرواحنا من قبل خلق الله طينة آدم “Antara aku dan kalian ada tautan cinta Tersembunyi dibalik rahasia alam Arwah kita sudah saling mencinta Sebelum Allah mencipta lempungnya Adam.” Ke-NU-an sejati ada di hati, bukan nomor anggota. Kyai Abdul Karim Hasyim, putera Hadhratus Syaikh sendiri, menolak ikut ketika NU keluar dari Masyumi. Demikian pula salah seorang santri Hadhratus Syaikh, Kyai Majid, ayahanda Almarhum Prof. Dr. Nurcholis Majid. Mereka berdua memilih tetap di dalam Masyumi. Apakah mereka tak lagi NU? Belum tentu. Mereka memilih sikap itu karena berpegang pada pernyataan Hadhratus Syaikh semasa hidupnya (NU keluar dari Masyumi sesudah Hadlratusy Syaikh wafat): “Masyumi adalah satu-satunya partai bagi ummat Islam Indonesia!” Apakah sikap pilihan mereka itu mu’tabar atau tidak, adalah soal ijtihadi. Tapi saya sungguh ingin mempercayai bahwa di hati mereka berdua tetap bersemayam ke-NU-an yang berpendar-pendar cahayanya. Pada suatu hari di awal abad ke-20, salah seorang santri datang ke Tebuireng untuk mengadu. Santri itu Basyir namanya, berasal dari kampung Kauman, Yogyakarta. Kepada kyai panutan mutlaknya itu, santri Basyir mengadu tentang seorang tetangganya yang baru pulang dari mukim di Makkah, yang kemudian membuat odo-odo “aneh” sehingga memancing kontroversi di antara masyarakat kampungnya. “Siapa namanya?” tanya Hadhratus Syaikh. “Ahmad Dahlan” “Bagaimana ciri-cirinya?” Santri Basyir menggambarkannya. “Oh! Itu Kang Dahlan!” Hadhratus Syaikh berseru gembira. Orang itu, beliau sudah mengenalnya. Teman semajlis dalam pengajian-pengajian Syaikh Khatib al-Minangkabawi di Makkah sana. “Tidak apa-apa”, kata Hadhratus Syaikh, “yang dia lakukan itu ndalan (ada dasarnya). Kamu jangan ikut-ikutan memusuhinya. Malah sebaiknya kamu bantu dia”. Santri Basyir patuh. Maka ketika kemudian Kyai Ahmad Dahlan medirikan Muhammadiyah, Kyai Basyir adalah salah seorang tangan kanan utamanya. Apakah Kyai Basyir “tak pernah NU”? Belum tentu. Puteranya, Azhar bin Basyir, beliau titipkan kepada Kyai Abdul Qodir Munawwir (Kakak ipar Kyai Ali Ma’shum) di Krapyak, Yogyakarta, untuk memperoleh pendidikan al-Quran dan ilmu-ilmu agama lainnya. Pengajian-pengajian Kyai Ali Ma’shum pun tak ditinggalkannya. Belakangan, Kyai Azhar bin Basyir terpilih sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah menggantikan AR Fahruddin. Kepada teman sekombong saya, Rustamhari namanya, anak Godean yang menjadi Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UGM, saya gemar meledek: “Kamu nggak usah macam-macam”, kata saya waktu itu, “ketuamu itu ORANG NU!” ********************************************************************* نفعنا الله بعلومهما وأمتنا في طريقتهما “Semoga Allah memberikan kemanfaatan kepada kita berkat ilmu beliau berdua dan wafatkanlah kami dalam thariqah mereka berdua.” Aamiin yaa Mujiibassaailiin. Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 02 Maret 2013

Minggu, 03 Maret 2013

Yayasan Jembatan Islam


Assalamu'alaikum Saudaraku yang InsyaAllah di rahmati Allah, InsyaAllah di bulan ini Yayasan Jembatan Islam akan mengadakan santunan Beasiswa bulanan kepada saudara kita (anak asuh yayasan) dan InsyaAllah Baksos yang kepada sepulu orang janda di kp, Coblong RT 02/01 Desa Sukakarya, Megamendung-Bogor , saya disini mengajak akhi/ukhti semua untuk berinfaq ke Yayasan Jembatan Islam demi kelancaran acara tersebut, Acara dilaksanakan tanggal 10 Maret 2013 ,. dana bisa di salurkan ke No rek Bank Syariah Mandiri 7049384755a.n Asep Sopan Sopain atau BCA 7360363915..a.n Asep Sopan Sopian . Nama Bendahara Yayasan Jembatan Islam Info lebih lanjut HUb Hermawan Aceng Hermawan 085770898391/0856907000

Kamis, 28 Februari 2013

Yayasan Jembatan Islam


Assalamu'alaikum Saudaraku yang InsyaAllah di rahmati Allah, InsyaAllah di bulan ini Yayasan Jembatan Islam akan mengadakan santunan Beasiswa bulanan kepada saudara kita (anak asuh yayasan) dan InsyaAllah Baksos yang kepada sepulu orang janda di kp, Coblong RT 02/01 Desa Sukakarya, Megamendung-Bogor , saya disini mengajak akhi/ukhti semua untuk berinfaq ke Yayasan Jembatan Islam demi kelancaran acara tersebut, Acara dilaksanakan tanggal 10 Maret 2013 ,. dana bisa di salurkan ke No rek Bank Syariah Mandiri 7049384755a.n Asep Sopan Sopain atau BCA 7360363915..a.n Asep Sopan Sopian . Nama Bendahara Yayasan Jembatan Islam Info lebih lanjut HUb Hermawan Aceng Hermawan 085770898391/08569070001

Senin, 25 Februari 2013

Kenangan Bersama Guru Besar


KENANGAN MANIS BERSAMA SANG GURU BESAR Oleh: KH. Mochammad Nuzulul Bawwakiel Muttaqien Alhamdulillah, sebuah kenangan terindah saat Khataman Kutub (beberapa kitab) yang kami baca selama lima tahun bersama dua Guru Besar al-Habib Sulthonul 'Ulama Salim bin Abdillah bin Umar asy-Syathiry dan asy-Syekh al-Mufti Muhammad bin Ali al-Khotib. Berikut adalah beberapa pengalaman yang tak terlupakan saat saat bersama sang Guru Besar: 1. Adalah bagaimana al-Habib Sulthonul 'Ulama Salim bin Abdillah bin Umar asy-Syathiry begitu telaten mengajar kami hingga 5 tahun lamanya, dengan hanya khatam satu kitab. Setiap ibarat yang kami baca hampir semua beliau jelaskan dan syarahi dengan komplit dari berbagai segi pandang keilmuan. Bahkan kami diwajibkan membawa siwak, bersuci ketika belajar dan selalu membawa kitab syarah dan buku tulis. Asy-Syekh al-Mufti Muhammad bin Ali al-Khotib al-Muqri' dengan syarwaninya, al-Habib Ja'far al-Kaff dengan fatwanya, Rumi, al-Habib bin Sumaith, al-Habib Idrus Assegaff, al-Habib bin Syihab, Sirojuddin dan saya sendiri, masing-masing membawa kitab syarah yang berlainan hingga dalam majlis setiap ibarat Fath al-Mu'in hampir semuanya dikupas dari berbagai kitab. Hingga 5 tahun dan setiap malam kami melalap satu baris saja dari Fath al-Mu'in dan kadang bahkan tidak berpindah sama sekali. Hanya 9 orang yang bertahan hingga akhir. Dan bagaimana kami mengingat bagaimana Asy-Syekh al-Mufti Muhammad bin Ali al-Khotib yang selalu mengdiktekan nash-nash madzhab Syafi'iyyah secara mendalam, lugas dan tegas, bahkan kami tidak jarang ditegur olehnya. Tidak ada halaqah sekeras halaqah kami. Alhamdulilllah. 2. Tidak pernah kami lupakan bagaimana kemulian al-Habib Sulthonul 'Ulama Salim bin Abdillah bin Umar asy-Syathiry dan keramat beliau. Ketika kami membaca kitab Thaharah di tahun pertama, saat itu datanglah hujan lebat, bahkan semua halaqah di Ribath berhamburan bersama. Namun beliau begitu santun tetap diam dan tersenyum, serta masih melanjutkan dars (belajar). Dan ketika bolpointku mblobor (error), terbersit dalam hati tentang kitabku nanti yang kotor. Dan seketika itu beliau menghentikan dars dan membaca Ratib Fatihah dan seketika itu hujan berhenti. Setelah berhenti beliau tersenyum kepadaku, dengan senyuman seorang ayah dan murabbi. Kejadian ini terulang saat khataman. Ketika itu al-Habib Sulthonul 'Ulama Salim bin Abdillah bin Umar asy-Syathiry merasa kepanasan, karena waktu itu musim panas yang panjang. Lantas kami datangkan AC, namun tetap saja beliau kepanasan. Kami dekatkan AC itu bahkan kami fullkan tetap saja beliau merasa kepanasan. Akhirnya beliau berkata: “Seandainya hujan”, dan disaat itulah hujan turun begitu deras hingga beliau bisa merasa sejuk. Dan ketika pulang, di sepanjang jalan air melimpah ruah. Tak hanya ini, bahkan ketika dars, al-Habib Sulthonul 'Ulama Salim bin Abdillah bin Umar asy-Syathiry mengatakan kepadaku beberapa tempat yang dibuat maksiat merokok, dan ternyata apa yang beliau katakan adalah nyata. 3. Teringat bagaiman al-Habib Sulthonul 'Ulama Salim bin Abdillah bin Umar asy-Syathiry membagi waktu dalam halaqah begitu ketat. Waktu pertama diisi dengan tahdzir (pertanyaan pelajaran kemaren), satu persatu mendapat pertanyaan dan wajib kami selesaikan. Teringat waktu aku dilimpahi semua pertanyaan, Alhamdulillah semua aku bisa jawab dengan tepat. Setelah itu al-Habib Sulthonul 'Ulama Salim bin Abdillah bin Umar asy-Syathiry selalu menanyakan siwak dari kami, jika satu saja tidak membawa maka beliau memarahi kami dengan sangat rahmat (penuh kasih sayang) dan halus. Yang membuat lucu adalah ketika al-Habib Ja'far al-Kaff tertidur di halaqah, maka seketika itu al-Habib Sulthonul 'Ulama Salim bin Abdillah bin Umar asy-Syathiry menginjakkan kakinya dan membentaknya, kemudian menyuruh al-Habib Ja'far berwudhu, hehehe. 4. Halaqah kami sangat ditakuti, bayangkan saja setiap murid yang akan masuk selalu dicerca dengan berbagai macam pertanyaan, baik al-Mu'tamad dalam madzhab, Mashra' al-Khilaf dalam madzhab, at-Tarjih dalam madzhab, dan Qawaid serta dalil-dalilnya. Dan ketika satu saja yang tak terjawab maka Asy-Syekh al-Mufti Muhammad bin Ali al-Khotib sang guru berkata: “Lebik baik kamu turun, dan mencari halaqah yang lebih pas dengan keadaanmu.” 5. Halaqah kami sangat unik. Kedua pengajarnya, al-Habib Salim bin Abdillah bin Umar asy-Syathiry yang terkenal dengan Sulthonul 'Ulama begitu hebat dalam falsafah islam, tafsir, sejarah dan qaul Madzhahib al-Arba'ah, sementara Asy-Syekh Muhammad bin Ali al-Khotib adalah mufti terhebat sampai saat ini, bahkan dalam setiap ibarat dan maslah yang ada beliau selalu bisa menunjukkan tempat-tempatnya di berbagai kitab Hawasyi yang kami bawa dengan sekali buka. Keterangan Foto: Kesembilan murid dalam kenangan yang terindah (menurut tempat duduk dan dari arah tayamun (kanan), juga dari urutan bagian pertanyaan tiap malam): 1) Asy-Syekh al-Muqri' Abdulah bin Abdurrahman al-Khotib (Tarim-Hadramaut) 2) Asy-Syekh KH. Mochammad Nuzulul Bawwwakil Muttaqien (Indonesia-Univ. Share'a and Law Faculty) 3) Al-Habib Muhmammad bin Syihab (Tarim-Hadramaut) 4) Al-Habib bin Sumaith (Tarim-Hadramaut) 5) Al-Habib Ja'far al-Kaff (Indonesia-Rubath) 6) Asy-Syekh KH. Sirojuddin Mukhtar (Indonesia-Ahgaff University) 7) Al-Qodhi al-Habib Idrus Assegaff (Tarim-Hadramaut) 8) Asy-Syekh KH. Rumi Jakarta (Indonesia-Rubath) 9) Asy-Syekh Dr. Amjad Rasyid al-Maqdisy (Palestina) Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 22 Februari 2013

Minggu, 17 Februari 2013

Penipuan di Warnet


Bagi rekan-rekan semua yang sering ke WarNet, coba kalian periksa di belakang PC warnet yang rekan-rekan gunakan tsb, bila ada COLOKAN HITAM, yang biasanya dipakai untuk mencegat jalur kabel Keyboard... Saya sarankan jangan On Line di WarNet tsb !!! Karena itu memang sengaja dipasang oleh entah pihak WarNet, atau pelanggan yang berniat jahat, dengan tujuan utk merekam/mengkopi data-data rekan-rekan , yang diantaranya adalah password e-mail, fb, internet banking ato data2 penting lainnya ...... Alat ini disebut HARDWARE KEYLOGGER ... Silahkan dishare pada teman2 lainnya yg sering On line di WarNet .... :) Semoga bermanfaat Share/bagikan info ini ke yang lain